New Normal di Masa Corona (Part-1)

Standard

#31HariMenulis Hari ke-7

Wabah Corona atau Covid-19 telah membuat pergeseran perilaku konsumen yang tiba-tiba mendisrupsi berbagai industri. Banyak perusahaan yang revenue-nya mendadak ambyar akibat wabah ini, dan khususnya karena perubahan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi sebuah produk.

Gambar dari sini

Berikut beberapa tren perilaku konsumen yang menjadi kenormalan baru di masa Corona.

1. The Century of Self Distancing

Begitu wabah COVID-19 berlalu, tak serta-merta orang berinteraksi fisik seperti sediakala. Bayang-bayang kematian akibat virus akan terus menghantui. Self-distancing akan menjadi kebiasaan dan kenormalan baru.
Selama krisis COVID-19, masyarakat sudah terbiasa menjaga jarak antar orang, lebih sering mencuci tangan, hingga rajin memakai masker.

Mereka juga lebih merenggang ketika mengantri. Bersalaman tangan secara langsung atau cium pipi juga akan semakin berkurang. Ketika pemakaian masker sudah menjadi keseharian, tak lama lagi masker akan menjadi fashion statement.

Kira-kira mirip dengan tren fesyen hijab beberapa tahun lalu. Ketika hijab telah menjadi keseharian, maka berhijab kemudian berubah menjadi gaya hidup dan tren fashion.

2. Food Delivery: From Indulgence to Utility

Layanan food delivery termasuk yang mengalami peningkatan sangat siginfikan selama krisis covid-19 berlangsung. Konsumen sementara menghindari eating out dan beralih ke layanan delivery baik melalui aplikasi seperti go-food maupun langsung order dari resto.

Pembelian makanan pun mulai bergeser dari yang sifatnya indulgence seperti makanan-mainuman kekinian yang sedang hits ke makanan yang sifatnya utility (fungsional). Kami memprediksi Food delivery akan menjadi habitual baru yang akan lebih sering dilakukan dari sebelumnya yang occasional (sewaktu-waktu).

3. Go Subscribe

Tren social distancing dan stay @ home lifestyle bakal menjadi katalis bagi migrasi konsumen untuk go online. Semua serba dibeli dan dikonsumsi secara online.

• Belanja grocery secara online.
• Menikmati film dan musik secara online.
• Membeli makanan secara online.
• Bekerja dan belajar secara online.
• Bermain games secara online.
• Bahkan berolahraga dan yoga pun melalui live class secara online.

Tak hanya, itu kini konsumen berbelanja dan mengonsumsi semua produk dan layanan tersebut secara rutin tiap hari atau berkala tiap minggunya. Karena kebutuhannya rutin dan terus menerus, maka akan lebih efisien dan menguntungkan baik bagi konsumen maupun produsen jika model pembeliannya secara berlangganan.

Dari sisi konsumen, dengan volume pembelian yang besar, konsumen akan mendapatkan harga yang lebih murah. Sementara dari sisi produsen, mereka akan mendapatkan jaminan permintaan
dan melakukan kastemisasi/personalisasi layanan.

4. Zoom-able Wokplace @ Home

Kebijakan perusahan yang menerapkan Work from Home (WFH) bagi karyawan memberikan pengaruh yang besar pada perubahan pola konsumsi. Dampak dari krisis COVID-19 salah satunya menghantam penjualan furnitur berdimensi besar namun di sisi lain tren peningkatan terjadi pada penjualan perlengkapan kerja (Home Office Equipment).

Hal ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan konsumen untuk membuat suasana kerja yang nyaman di rumah. Riset Google Trend di awal Maret mengalami lonjakan pencarian untuk keyword perlengkapan kerja dan
monitor. Sementara itu, IKEA dan BestBuy juga mengalami peningkatan penjualan khusus untuk office furniture.

5. The Future of Traveling

Dengan ancaman wabah COVID-19 masih terus mengintai maka para travellers tidak bisa bebas keluyuran di destinasi-destinasi wisata seperti sebelum-sebelumnya. Tentu saja mereka tetap berlibur tapi dalam situasi dan kondisi yang bisa dikontrol dan tak terpapar virus. Mereka kian sadar melakukan self social distancing.

Staycation atau berlibur di dalam lingkungan hotel akan menjadi pilihan terbaik. Aktivitas travelling kian menjadi aktivitas individual bukan lagi berbentuk grup. Wellness tour makin banyak peminat.

Bentuk baru virtual tourism akan mulai muncul dengan memanfaatkan virtual/augmented reality. Walaupun memang belum bisa menandingi keunggulan travelling fisik dengan pengalaman see, smell, sound, touch, taste yang lebih deep, alamiah, dan otentik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *