Muslim 4.0 Bagian ke-2: Konsumen Muslim Pasca Corona

Standard

#31HariMenulis Hari ke-6

Melanjutkan tulisan Muslim 4.0 bagian ke-1 sebelumnya, di mana saya meyakini pasca corona nanti konsumen muslim di Indonesia bertransformasi menjadi semakin digital dan spiritual.

Berikut adalah tren-tren perilaku Muslim 4.0 yang semakin spiritual, di mana konsumsi adalah bagian dari ibadah dan harus sesuai dengan nilai-nilai yang islami.

1. Halal of Things.

Penyebaran virus Covid-19 masih terus menghantui dunia. Virus yang diduga kuat berasal dari hewan liar itu kini telah merenggut ribuan nyawa manusia. Sejumlah pihak pun menilai bahwa wabah ini memiliki hikmah bagi peradaban manusia, terutama ihwal jenis makanan yang dikonsumsi.

Salah satu  hikmah dari wabah ini adalah soal betapa pentingnya mengonsumsi makanan halal dan higienis. Konsumen semakin menyadari makanan yang tidak halal atau pemrosesannya tidak higienis berpotensi besar mengakibatkan penyakit seperti yang terjadi sekarang.

Gaya hidup hijrah turut merevolusi industry halal. Di e-book “Muslim Zaman Now” kami memaparkan tentang fenomena “Halal of Things”, dimana tuntutan akan produk halal tidak terbatas pada makanan dan minuman saja.

Berbagai produk di luar makanan dan minuman mulai banyak mem-branding diri sebagai produk halal. Sebut saja kosmetik, kulkas, deterjen, peralatan masak, hingga fashion mengklaim produknya dengan label halal. Kini juga mulai banyak bermunculan ritel modern yang mengusung halal dalam branding serta value chainnya.

Tren ini seakan menjadi bola salju yang mendorong produk-produk lainnya berlomba-lomba menjadikan halal sebagai unique value propostion. Seiring juga mulai diimplementasikannya UU Jaminan Produk Halal, label halal akan menjadi “Hot” label di masa yang akan datang

2. Muslim Fashion: Fun, Functional, Fashionable

Ketika milenial muslim memutuskan berhijrah, menjadi pribadi yang lebih baik, maka gaya busananya juga berubah. Yang semula terbuka menjadi tertutup, yang tadinya ketat menjadi longgar, mengikuti ketentuan agama yang mereka yakini.

Fashion syarie pun berevolusi menjadi tak ketinggalan gaya, banyak pilihan, dan juga mulai berkelas. Fashion syarie menjadi pilihan baru bagi milenial muslim, yang membuat mereka makin confident sesuai syariah, namun tetap fashionable.

Kini banyak ditemui memakai gamis longgar atau bercadar dipadukan dengan sneaker. Atau celana tidak isbal dengan ankle cutting dengan kemeja flannel.

3. Sharia-Finance

Seiring berkembangnya pasar muslim di Indonesia, ekonomi syariah khususnya industri keuangan syariah turut berkembang cukup pesat. Berbagai layanan terkait keuangan syariah mulai menjadi pilihan bagi konsumen muslim.

Seiring naiknya kesadaran riba di kalangan konsumen muslim, pemilik merek pun harus siap-siap untuk menjadikan produk dan layanannya sharia-friendly dengan menghilangkan unsur-unsur riba. Tren ini terutama akan banyak mempengaruhi operasi perusahaan-perusahaan keuangan seperti bank, leasing, reksadana, hingga fintech.

Konsumen muslim yang semakin islami, kini juga semakin sadar dengan potensi ekonomi keumatan yang bisa diberdayakan. Salah satu yang mencuat belakangan ini adalah tren wakaf sebagai gerakan ekonomi keumatan yang semakin berkembang.

4. Lei-Sharia

Konsumen muslim zaman kiwari adalah juga experience-seeker yang hobi melakukan kegiatan leisure. Saat ber-leisure ria, mereka menginginkan destinasi wisata atau tempat berkuliner yang bersahabat alias halal-friendly dan sharia-friendly. Inilah yang kami sebut: “Lei-Sharia”.

Karena itu, kini mulai banyak bermunculan destinasi-destinasi wisata yang menerapkan prinsip muslim-friendly. Negara-negara seperti Jepang, Korea atau Thailand mulai mempromosikan destinasi mereka yang ramah terhadap wisatawan muslim.

Mal-mal pun mulai membuat masjid atau mushola yang lebih bagus, representatif dan eksklusif. Begitu pula resto chain besar seperti McD pun memampang besar gambar mushola di depan outlet mereka sebagai pesan bahwa konsumen bisa beribadah dengan nyaman sembari nongkrong di sana.

Hotel-hotel berlabel ‘syariah’ juga mulai bermunculan menawarkan value yang muslim – atau family – friendly sehingga menjadi pilihan bagi keluarga muslim untuk tetap nyaman dan terhindar dari hal yang dilarang agama.

Di sisi lain, mulai banyak bermunculan beragam aplikasi yang memudahkan muslim travellers dalam melakukan halal traveling. Kontennya mulai dari: destinasi halal, tempat makan halal, hotel dan penginapan syariah, fasilitas ibadah, hingga panduan doa.

5. Mipster: The New Role Model

Fenomena muslim zaman now telah menghadirkan sosok role model baru, yang muda, pintar, gaul, soleh/solehah dan terkenal. Sosok seperti ini secara global disebut sebagai “Mipster” atau Muslim Hipster yaitu kombinasi dari muslim dan hipster, dimana mereka adalah sosok yang memiliki mindset global, toleran, inklusif dan digital-savvy, pun relijius. Seimbang antara “faith” dan “fun”.

Tak ketinggalan di Indonesia, sosok seperti ini begitu diidolakan oleh muslim zaman now. Sebut saja Muzammil Hasballah, sosok muda lulusan ITB yang suaranya sangat merdu melafalkan ayat-ayat Quran, dengan penampilan yang sangat stylish.

Di kalangan muslimah, juga sangat populer sosok-sosok hijabers yang menjadi seleb di social media seperti @dwihandaanda, @megaiskanti, @bellattamimi atau hijabers dari Korea yang viral, @xolovelyayana. Mereka adalah role model baru, Mipster!

Nike Pro Hijab" Dibuat Khusus Untuk Atlet Muslimah - Reportase News
Nike Pro-Hijab. (gambar dari sini)

2 thoughts on “Muslim 4.0 Bagian ke-2: Konsumen Muslim Pasca Corona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *