Inovasi Marketing di Masa Corona (Part-1)

Standard

#31HariMenulis Hari ke-9

Hadirnya Corona telah meluluh-lantakkan denyut nadi perekonomian dan bisnis. Banyak perusahaan mulai kedodoran bahkan terancam gulung tikar karena penjualan ambles dan ngga ada cash. Para pebisnis harus memutar otak untuk bertahan menyelamatkan revenue.

Dari pengamatan terhadap beberapa brand, berikut coba saya eksplorasi beberapa ide atau inovasi marketing untuk survive di masa corona ini.

Gambar dari Freepik

1. Corona-Bundling Kit

Value innovation dengan meluncurkan product bundling dengan harga yang kompetitif sangat efektif untuk mendongkrak intensi konsumen untuk membeli. Konsumen diuntungkan dengan berbagai penawaran “pay less, for more”. Product bundling yang dilakukan brand seperti Sasa, Lemonilo dan Herbana tidak hanya berbentuk paket varian produk saja, namun konsumen juga diberikan masker atau hand sanitizer gratis di dalamnya.

Perusahaan/brand harus paham betul apa yang dibutuhkan konsumen saat ini, di saat masker sulit didapat maka brand bisa menghadirkan varian bundling dengan tambahan masker.

2. On-Demand Cleaning Service

Survei di seluruh dunia menunjukkan permintaan terhadap produk dan layanan higienitas meningkat pesat. Ini merupakan peluang bagi sektor perhotelan dengan melakukan utilisasi aset yang mereka miliki yaitu kompetensi di bidang housekeeping khususnya cleaning services.

Hotel Teraskita (by Dafam) dan Hotel Ambhara memanfaatkan SDM yang selama ini membersihkan kamar hotel untuk meluncurkan layanan “on-demand cleaning service”. Melalui layanan inovatif ini mereka menawarkan kebersihan prima “berkelas hotel” ke rumah-rumah.

3. Shop @ Museum

Para pemilik museum dan pameran sangat terdampak karena adanya wabah COVID-19, karena experience tercipta ketika konsumen berada di museum secara fisik. Karena itu mereka harus melakukan inovasi untuk menjaga cashflow agar tetap stabil.

Museum Macan Jakarta dan Museum of Modern Art di New York melakukan inovasi dengan menjual souvernir, buku gambar, permainan anak-anak, sampai pensil warna di online store mereka untuk menciptakan revenue stream baru. Langkah kreatif ini juga bertujuan menciptakan experience museum di rumah konsumen.

4. Go Frozen

Permintaan produk frozen food semakin meningkat di kala mereka tak bisa berpergian ke luar rumah. Apalagi emak-emak milenial memang tidak piawai memasak, sehingga mereka memasak yang mudah-mudah
(simple cooking).

Kondisi ini dimanfaatkan Es teler 77 dan Hokben untuk mengeluarkan varian produk frozen dan “ready to eat” untuk mengantisipasi pelanggan dine-in yang terus merosot. Di setiap krisis selalu ada peluang. Itulah yang dilakukan pelaku bisnis kuliner dengan me-leverage aset dan core competence yang mereka miliki.

5. Work From Hotel

Di saat krisis wabah COVID-19 saat ini, sektor perhotelan harus pintar melakukan inovasi promo di kala okupansi kamar yang kian merosot dari waktu ke waktu. Banyak hotel di Bali dan kota-kota besar lainnya mengeluarkan paket promo “Work From Hotel” dengan harga yang sangat murah mulai dari Rp 2 juta untuk satu bulan menginap. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan tingkat okupansi dan menjaga cashflow bisnis yang kian hancur oleh adanya PSBB.

Survival innovation yang dengan menciptakan “tawaran yang tidak bisa ditolak konsumen” harus harus gencar dilakukan pemain di industri perhotelan kalau nggak mau okupansi terus kosong dan cashflow mandek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *