Valentine dan Empathetic Marketing to Jomblo

Standard

Apa tanda-tanda hari Valentine telah tiba? tiba-tiba banyak penjual bunga dan soklat, dan ya tentu saja debat tak berujung tahunan di socmed yang membahas apakah merayakannya haram. Setiap tanggal 14 Februari kita selalu diriuhkan netizen beradu argumen haram tidaknya merayakan Valentine (bagi yang muslim), padahal saya sendiri masih bingung, sebenarnya merayakan Valentine itu bagaimana sih?

Valentine sendiri sejarahnya juga simpang siur tak jelas dengan banyak versi, yang intinya adalah dirayakan untuk mengungkapkan kasih sayang pada pasangan, atau orang-orang yang kita sayang. Ini memang konspirasi wahyudi, atau pasti akal-akalan industri untuk mengeruk keuntungan.

OK, ini Valentino Rossi

OK, ini Valentino Rossi meratapi kejombloannya

Komodifikasi Cinta

Jadi, selain hari penuh kasih sayang, Valentine kini juga menjelma jadi hari penuh uang. Orang Amerika rata-rata menghabiskan $ 120 untuk merayakan 14 Februari, entah orang Uganda saya tak punya datanya. Para muda-mudi berbondong-bondong beli bunga, cokelat, kirim ucapan, antri romantic dinner di resto kekinian, atau bahkan check-in di hotel dengan pasangan demi merayakan hari kasih uang sayang ini. Bahkan, konon penjualan kondom terbesar selain malam tahun baru ya pas hari Valentine ini, astaghfirullah…

Kaum kapitalis tidak memandang cinta sebagai sebuah perwujudan eksistensial yang ultima bagi kita, manusia. Cinta-lah yang mencampakkan Rangga namun akhirnya menyesal membedakan kita dengan binatang yang penuh nafsu. Cinta yang membuat kita mampu melakukan hal-hal yang tidak mampu dilakukan.  Namun, bagi para pebisnis, cinta hanyalah ekspresi emosional yang bisa menjadi komoditas untuk dieksploitasi demi kemakmuran kapital. *halah*

Apakah salah? ya sah-sah saja dalam bisnis, selama masih win-win dengan customer. Toh customer itu suka di’bodoh’i dan di’bohong’i kan? :p

Jomblo: Termarjinalkan Namun Menggiurkan

Namun, dalam setiap hingar bingar Valentine, ada satu kaum yang termarjinalkan dan terpinggirkan. Siapa lagi kalau bukan jomblowan dan jomblowati. Hampir semua brand bikin campaign atau promo untuk orang-orang yang punya pasangan, sedangkan jomblo-jomblo ini hanya mampu meratapi kesendirian.

Padahal, potensi pasar dari kaum fakir kasih sayang ini sangatlah besar. Kalau dihitung populasinya mungkin bisa no. 3 setelah jumlah penduduk Cina dan pengguna Facebook. Jomblo kini sudah menjadi gaya hidup urban. Banyak alasan menjadi jomblo, riset membuktikan, makin mapan orang di usia muda, makin besar kemungkinan dia remain singleInsight banyaknya orang tetap menjomblo adalah can’t give up the freedom where to eat, whom to eat with, whom to go out.

Riset membuktikan single adults spend lebih banyak duit ketimbang individual married, jadi jomblo ngga berarti lebih irit. Justru banyak jomblo-jomblo ini berani spend money on premium goods dan services. Cowok-cowok jomblo drives premium car, menuhin apartemennya dengan TV segede gaban dan home theatre secanggih mungkin. Single mid-up income women gak perlu merasa bersalah beli sepatu Loubotine blink-blink yang sepasangnya 80 juta perak. Toh, ngga ada yang melarang beli ini-itu, mereka bebas mau ngapain aja. Ngga peduli susu anak habis, cicilan panci, KPR dan tetek-bengek lainnya. Hidup adalah untuk dinikmati sebelum dikekang sana sini.

So, para jomblo ini perlahan jadi segmen baru yang perlu diperhatikan para marketer, welcome to #Jomblonomic!! Sudah saatnya brand-brand lebih mengutamakan para jomblo di hari Valentine. Mereka yang teraniaya ini punya ikatan kuat yang menyatukan dengan prinsip jomblo bersatu tak bisa dikalahkan. Mereka bisa jadi evangelist dan garda terdepan yang akan membela brand Anda. Bagaimana caranya?

Empathetic Marketing

Berempati adalah kemampuan untuk menangkap emosi dan perasaan orang lain dan kemudian meresponsnya dengan emosi dan perasaan yang sama. Ketika seseorang merasakan kesedihan karena kesepian atau ditinggal orang yang dikasihinya, maka serta-merta muncul rasa empati kita dengan menunjukkan kesedihan yang sama. Empati terjadi sebagai bentuk pengertian dan untuk menciptakan hubungan emosional dengan orang lain.

“Empathy occur in order to understand another person, to predict their behavior, and to connect or resonate with them emotionally.”

Empati kini menjadi sesuatu yang kian penting dalam membangun sebuah brand. Kenapa? Karena di tengah kehidupan yang makin kompleks dan tidak manusiawi sekarang ini, menciptakan brand personality yang berbasis pada nilai-nilai empati akan mampu menghasilkan emotional connection yang solid antara brand dengan konsumennya.

Para kaum fakir kasih sayang ini sangat membutuhkan empati dan teman yang mengerti kesepian dan kesendirian mereka. Brand Anda harus hadir menjadi oase di tengah kekeringan para jomblo. Contohlah Raditya Dika yang sangat mengerti para jomblo, di setiap materi stand up atau cuitannya di twitter, dia selalu empower jomblo. Bahkan Radit bikin film bertajuk “Single” yang telah ditonton lebih dari 1 juta orang!!

Selamat hari Valentine, hidup kaum Jomblo!!

Be an empathetic brand. Touch customer’s deepest heart with your love and passion.”

 

*sumber gambar dari sini

Feel free to shareShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrTweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *