Dua Tujuh dan Hal-Hal yang (Belum) Selesai

Standard

Suara jangkrik masih bersahutan dini hari itu, saat kami terdampar di sebuah perbukitan cantik dekat perbatasan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Karesidenan Kedu. Orang-orang menyebutnya Sendangsono. Tempat suci yang menjadi tujuan ziarah orang katolik, di mana  Romo Van Lith melakukan pembaptisan untuk pertama kalinya di pulau jawa.

Dalam keheningan subuh yang kudus itu, kami menanti datangnya pagi. Sebuah pagi yang mengajarkan, bahwa setinggi apapun matahari, ia senantiasa rendah hati, menyapa yang jauh dan tak terjangkau. Ya, sebuah pagi yang menakjubkan, meminjam istilah Sheila on 7.

Saya begitu terkagum dengan lanskap karya Romo Mangun ini, seperti halnya saya terpesona oleh novelnya “Burung-Burung Manyar”. Sebuah tempat yang penuh kedamaian nan hening untuk sejenak berkontemplasi. ┬áPagi itu, saya tepat berusia 22. *kemudian mengalun lagu ..namaku si ratu oke, umurku 22..*

gambar diambil dari http://sabdatamatours.files.wordpress.com/2012/06/041.jpg

Sendangsono *gambar diambil dari sini*

Continue reading