Corona Kills Everything (Part-1)

Standard

#31HariMenulis Hari ke-11

Tahun lalu, saya menulis buku “Millennial Kills Everything” yang viral dan menjadi best seller di toko buku. Buku itu menceritakan bagaimana perubahan perilaku pada generasi milenial secara langsung maupun tidak langsung telah “membunuh” berbagai produk, perilaku hingga industri yang tadinya mapan.

Begitu pula ketika negara api Corona datang menyerang, tiba-tiba praktek “pembunuhan” ini kembali terjadi. Corona juga turut mendisrupsi atau “membunuh” berbagai produk, industri hingga perilaku konsumen.

Tenang, jangan nge-gas dulu, tentu saja tidak benar-benar terbunuh, namun Corona membuat hal-hal tersebut sementara ini turun atau jatuh, hingga nanti kondisi kembali notmal.

5 Klaster Korban Pembunuhan Corona (Inventure, 2020)
Continue reading

Inovasi Marketing di Masa Corona (Part-2)

Standard

#31HariMenulis Hari ke-10

Melanjutkan tulisan kemarin tentang ide-ide inovasi marketing yang bisa dilakukan oleh perusahaan atau brand selama (dan sesudah) masa pandemi ini. Saya tambahkan 5 lagi contoh inovasi marketing agar genap menjadi 10

6. Date From Home

Aktivitas rumah yang kian monoton dan membosankan, mendorong dating apps startup Hinge membuat fitur baru yang memungkinkan penggunanya melakukan “date from home” secara virtual.

Hinge meluncurkan fitur “date from home” dimana pengguna menemukan jodohnya, maka si partner menyetujui fitur video call yang ditawarkan dan
merekomendasikan topik-topik yang pas saat melakukan video call. Mulai dari yoga bareng, main video game bareng, hingga belajar masak berdua secara virtual.

Continue reading

Inovasi Marketing di Masa Corona (Part-1)

Standard

#31HariMenulis Hari ke-9

Hadirnya Corona telah meluluh-lantakkan denyut nadi perekonomian dan bisnis. Banyak perusahaan mulai kedodoran bahkan terancam gulung tikar karena penjualan ambles dan ngga ada cash. Para pebisnis harus memutar otak untuk bertahan menyelamatkan revenue.

Dari pengamatan terhadap beberapa brand, berikut coba saya eksplorasi beberapa ide atau inovasi marketing untuk survive di masa corona ini.

Gambar dari Freepik
Continue reading

New Normal di Masa Corona (Part-1)

Standard

#31HariMenulis Hari ke-7

Wabah Corona atau Covid-19 telah membuat pergeseran perilaku konsumen yang tiba-tiba mendisrupsi berbagai industri. Banyak perusahaan yang revenue-nya mendadak ambyar akibat wabah ini, dan khususnya karena perubahan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi sebuah produk.

Gambar dari sini

Berikut beberapa tren perilaku konsumen yang menjadi kenormalan baru di masa Corona.

Continue reading

Muslim 4.0 Bagian ke-2: Konsumen Muslim Pasca Corona

Standard

#31HariMenulis Hari ke-6

Melanjutkan tulisan Muslim 4.0 bagian ke-1 sebelumnya, di mana saya meyakini pasca corona nanti konsumen muslim di Indonesia bertransformasi menjadi semakin digital dan spiritual.

Berikut adalah tren-tren perilaku Muslim 4.0 yang semakin spiritual, di mana konsumsi adalah bagian dari ibadah dan harus sesuai dengan nilai-nilai yang islami.

Continue reading

Didi Kempot, City Branding dan Broken Heart

Standard

#31HariMenulis Hari ke-5

Ada yang berbeda dari notifikasi grup WA pagi ini. Seorang kawan ASN yang cukup tenar di jagad maya mengabarkan sebuah berita lelayu yang cukup mengejutkan. The Godfather of Broken Heart, H.E Didi Kempot berpulang ke haribaan Ilahi.

Sontak saya tercengang seakan tak percaya. Segera saya cek di linimasa Twitter yang biasanya paling update dengan kabar terkini. Dan ternyata benar, berita itu nyata. Sang maestro benar-benar pergi. Bak disambar petirnya Thor di siang bolong – tapi masih pagi sih – saya langsung membatalkan puasa mencuit belasungkawa untuk beliau. #RIP

Continue reading

Muslim 4.0: Konsumen Muslim Pasca Corona (bagian-1)

Standard

#31HariMenulis Hari ke-4

Selain mengubah perilaku konsumen muslim saat Ramadhan dan lebaran, Corona akhirnya mempercepat transformasi konsumen muslim di Indonesia menjadi “Muslim 4.0”.

Muslim 4.0 hadir dengan tiga pergeseran atau megashift yaitu mereka menjadi semakin digital, semakin spiritual dan semakin empatik.

Mari kita lihat bagaimana transformasi konsumen muslim secara digital, secara umum ada 5 tren besar sebagai berikut.

1. Ngaji-gital

Dakwah sebagai salah satu misi Islam berkembang dengan cepat melalui media konvensional  sampai dengan digital. Dakwah yang selama ini dilakukan dengan metode pendekatan ceramah dan tabligh atau komunikasi satu arah (one way), menjadi tidak cool lagi di mata muslim milenial.

Apalagi di masa pandemi wabah Corona, dimana aktivitas ibadah di masjid semakin dibatasi, membuat ngaji secara digital akan semakin mainstream. Ngaji melalui WA group, Youtube, podcast hingga live streaming dengan Zoom akan menjadi kenormalan baru setelah wabah ini selesai nanti.

Continue reading

Ramadhan & Lebaran di Masa Corona

Standard

#31HariMenulis Hari ke-3

Benny Rachmadi - Buka Bersama Online
Iftar Virtual. (gambar dari sini)

Marhaban ya ra madhang Ramadan…

Bulan yang ditunggu-tunggu segenap umat muslim sedunia, dimana pada bulan ini adalah momentum memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah dan……kalap berbelanja..

Sebelum Covid-19 datang menyerang!

Ya, wabah corona berdampak besar terhadap aktivitas masyarakat menyambut bulan Ramadhan maupun lebaran. Indahnya shalat tarawih berjamaah di masjid tetiba ngga bisa. Silaturahmi dan berghibah melalui buka bersama teman dan sahabat mendadak harus secara virtual.

Lalu, apalagi yang berubah dari Ramdhan dan Lebaran tahun ini akibat corona?

1. #IbadahDiRumah

Bulan Ramadhan tahun ini mungkin menjadi Ramadhan yang paling berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hadirnya wabah Covid-19 mengubah kebiasaan ibadah yang dinanti-nantikan umat muslim setiap tahun.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau seluruh masyarakat untuk beribadah dari rumah guna mencegah penyebaran virus corona. Salat lima waktu, salat Jumat, salat tarawih saat bulan Ramadan, dan kegiatan keagamaan lain diminta untuk tidak dilakukan di masjid, melainkan cukup di rumah.

Maka, aktivitas ibadah di masjid pun kini otomatis berpindah di rumah. Masyarakat semakin khusyuk menjalani bulan Ramadhan tanpa banyak distraksi dari luar.

PELAJARAN MARKETING DARI BOHEMIAN RHAPSODY.

Standard

#31HariMenulis Day-2


Semalam, ketiga kalinya saya menonton film yg berkisah tentang perjalanan band legendaris Queen (atau lebih tepatnya Freddie Mercury).

Terlepas bumbu-bumbu fiksinya, sebagai praktisi marketing saya tertarik dg beberapa adegan yg memberikan inspirasi tentang Queen as a brand.

###
1. Brand Positioning (DNA)

Saat berdebat dg produser EMI tentang album Night at the Opera, Queen menolak menggunakan formula yg sama dg album pertama, karena mereka adalah Queen – 4 orang aneh yg tidak cocok bermain utk orang aneh lain, orang2 yg dikucilkan yg juga merasa tidak cocok dg lingkungannya.

Queen tidak mau terjebak pada formula industri musik yg mainstream. Mereka ingin men-drive market dg racikan mereka sendiri, rock n roll yg beradu dg nada2 tinggi ala opera dan lirik yg penuh metafora dan misteri, Bohemian Rhapsody!

Ya, marketing adalah tentang authenticity! Dengan positioning yg clear dan diferensiasi yg unik, brand anda akan outstanding di pasar.

###
2. Part of the Show

Saat suntuk menunggu Freddie yg tak kunjung tiba untuk latihan, Brian May tiba-tiba kepikiran membuat lagu yg melibatkan penonton sbg bagian dari pertunjukan. Maka, terciptalah lagu “We Will Rock You” dg intro lagu yg mengajak penonton bertepuk tangan beriringan dg ketukan drum.

Ide ini sungguh jenius, karena sejatinya marketing yg paripurna adalah tentang co-creation antara brand dg customer. Dengan melibatkan penonton sbg bagian dari pertunjukan, terjadi horisontalisasi dimana brand adalah fasilitator yg menjadi enabler dlm memberdayakan customer.

Be an authentic brand, and get connected with your customer!!