New Normal Tourism

Standard

#31HariMenulis Hari ke-14

Industri pariwisata nampaknya yang paling terpukul di tengah krisis corona ini. Sektor ini yang paling awal terdampak dan diprediksi yang paling akhir pemulihannya.

Gambar dari Freepik

Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi masalah pariwisata, UNWTO (United Nations World Tourism Organization) merilis efek Corona ke dunia wisata. Sampai 6 April 2020, sebanyak 96% dari destinasi wisata di seluruh dunia sudah menerapkan larangan travel untuk merespons COVID-19. Sekitar 90 tempat wisata sudah menutup pintunya untuk turis, sementara 44 tempat wisata ditutup untuk turis dari beberapa negara tertentu.

Negara-negara di kawasan Afrika, Asia Pasifik dan Timur Tengah sudah menerapkan pembatasan sejak Januari 2020, di Amerika 92% destinasi juga sudah menerapkan pembatasan yang serupa. Sementara di Eropa sudah 93% yang menerapkan pembatasan.

Di Indonesia, kawasan wisata unggulan seperti Bali pun mengalami penurunan jumlah turis yang sangat signifikan selama penutupan tempat-tempat wisata akibat krisis COVID-19 ini. April lalu jumlah turis turun hingga 93% dari bulan yang sama tahun 2019.

Lalu, bagaimana wajah pariwisata selepas pandemi ini berakhir nanti? Bagaimana kenormalan baru akan terjadi di pariwisata? Berikut beberapa prediksi saya.

1. Staycation

Dengan ancaman wabah COVID-19 masih terus mengintai maka para travellers tidak bisa bebas keluyuran di destinasi-destinasi wisata seperti sebelum-sebelumnya. Tentu saja mereka tetap berlibur tapi dalam situasi dan kondisi yang bisa dikontrol dan tak terpapar virus.

Mereka kian sadar melakukan self social distancing. Maka, staycation atau berlibur di dalam lingkungan hotel akan menjadi pilihan terbaik dan menjadi kenormalan baru.

2. Wellness Tours

Wisata wellness akan menjadi pilihan bagi wisatawan di masa new normal nanti. Wellness di sini adalah sebagai wisata minat khusus yang bertujuan untuk kebugaran tubuh wisatawan. 

Atraksi seperti spa, yoga, meditasi atau mindfulness akan menjadi alternatif bagi wisatawan yang mencari ketenangan. Destinasi seperti Ubud, Borobudur atau Banyuwangi tentu cocok untuk atraksi ini.

3. Virtual Tours

Virtual tour berbayar bisa dilakukan oleh travel agent untuk sementara menyelamatkan cashflow. Dengan guide profesional yang memandu selama tur berlangsung secara virtual, bisa memberikan pengalaman baru bagi traveler.

Beberapa tour operator sudah memulai membuat paket-paket wisata virtual berbayar ini, dengan memanfaatkan platform seperti Zoom maupun dengan virtual reality dengan 360 degree camera.

4. Campervan/Nomadic Tours

Ketika wisatawan masih ragu dan takut untuk berkerumun di bandara atau pesawat, maka nomadic tour dengan campervan bisa menjadi pengalaman baru yang otentik. Seperti jamak ditemui di destinasi seperti New Zealand atau Eropa, traveling dengan menggunakan campervan bisa dilakukan di Indonesia.

Berkeliling mengitari Pulau Jawa atau Bali, bahkan Sumatera tentu sangat menarik dengan campervan. Apalagi infrastruktur (seperti jalan tol) sudah sangat mendukung.

5. Solo Traveling

Seiring self-social distancing akan menjadi new normal, wisatawan mungkin masih akan menghindari traveling secara grup atau rame-rame. Solo traveling akan menjadi pilihan khususnya di generasi milenial. setidaknya sampai corona benar-benar hilang nanti.

Melakukan aktivitas traveling sendirian atau yang dikenal dengan istilah solo traveling bisa membantu mengenal lebih dalam tentang diri sendiri dan bakat terpendam yang dimilki. Selain itu traveller juga bisa mendapatkan perasaan puas setelah mendapatkan waktu me-time dengan solo traveling.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *