Millennial Kill Everything

Standard

#31HariMenulis Hari ke-17

Pada hari buku nasional, yang kebetulan hari ini, saya mau bercerita tentang buku yang saya tulis – atau tepatnya terlibat sebagai salah satu tim penulis – yaitu buku “Millennial Kill Everything”.

Pada awal peluncuran setahun lalu, buku yang diterbitkan Gramedia ini membuat kehebohan di media sosial, khususnya linimasa Twitter. Foto daftar 50 produk/industri/perilaku yang “dibunuh” milenial segera menjadi viral dimana-mana.

Banyak netizen mengomentari list tersebut terlalu berlebihan, tendensius, atau menggeneralisir. Namun, banyak pula yang mengapresiasi, terbukti buku ini menjadi best-seller di Gramedia dan sudah memasuki cetakan ke-4. Hehe.

Undangan-undangan seminar terkait buku tersebut pun berdatangan dari korporasi-korporasi. Khususnya korporasi inkumben yang mulai dianggap tidak relevan oleh konsumen milenial. Mereka lumayan “ketakutan” menghadapi perilaku baru konsumen milenial yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.

Roadshow promosi buku ini ke 10 kota juga selalu dipenuhi audiens, yang mayoritas para pelaku entrepreneur. Khususnya mereka yang penasaran bagaimana milenial bisa “membunuh” bisnis mereka.

Kenapa milenial bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin” bagi begitu banyak produk dan layanan? Karena perilaku dan preferensi mereka berubah begitu drastis sehingga produk dan layanan tersebut menjadi tidak relevan lagi, alias punah ditelan zaman.

Contoh paling mudah adalah tempat kerja yang nantinya pelan tapi pasti bisa “dibunuh” oleh milenial. Bagi Baby Boomers dan Gen-X bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 8 pagi sampai 5 sore (“8-to-5”) adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial.

Milenial mulai menuntut fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mereka mulai menuntut pola kerja: “remote working”, “flexible working schedule”, atau “flexi job”. Survei Deloitte menunjukkan, 92% milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Tren ke arah “freelancer”, “digital nomad” atau “gig economy” kini kian menguat. Kerja bisa berpindah-pindah: tiga bulan di Ubud, empat bulan di Raja Ampat, tiga bulan berikutnya lagi di Chiang May. Istilah kerennya: workcation (kerja sambil liburan).

Apa dampak dari millennial shifting tersebut terhadap kantor-kantor yang masih menerapkan working style ala Baby Boomers dan Gen-X? So pasti kantor-kantor jadul itu akan ditinggalkan angkatan kerja yang nantinya bakal didominasi milenial. Kantor itu akan punah dan melapuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *