Incremental vs Exponential Way of Thinking

Standard

#31HariMenulis Hari ke-16

kita sekarang sedang menghadapi kelahiran (yang sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir) apa yang disebut sebagai strategic digital gap.

Untuk menggambarkannya, saya meminjam model dari Deloitte. Saat ini terjadi sebuah gap, dimana sebelumnya in-terms of value, antara kinerja bisnis yang dikelola secara incremental atau linier, dengan kinerja bisnis yang dikelola dengan cara eksponensial.

Change Your Mindset, Change the World! - SU Blog
Gambar dari sini

Ada tiga hal yang penting untuk dicermati. Pertama grafik ke atas dari model tersebut ternyata tidak hanya in-terms of value, tapi juga organic revenue dan jumlah customer.

Poin kedua adalah, sebelum gap ini lahir, cara kita berbisnis seolah hanya ada satu cara dalam mengelola bisnis, yaitu dengan cara incremental way of thinking. Bahwa bisnis itu dikembangkan secara bertahap. Paling mudah tercermin dari capital expenditure, 10% lebih saja sudah sangat bagus. Kelak pemikiran seperti ini disebut sebagai best practice.

Kalau ada yang berpikiran tidak sesuai dengan best practice, cara berpikir seperti itu akan selalu diabaikan, atau bahasa gaulnya “emang gue pikirin”. Namun, ternyata ada cara berpikir yang tidak incremental, saya menyebutnya sebagai cara eksponensial.

Cara berpikir eksponensial adalah tidak berpikir prosedural, business as usual, atau konvensional. Cara berpikir ini seperti orang yang tidak sabaran. Dalam jangka waktu yang cepat bisnis kita harus bisa melampaui market-leader.

Salah satu ciri berpikir eksponensial adalah dengan berpikir anti kemapanan, gemar mebolak-balik logika. Dulu harus mendaftar berlangganan, sekarang tidak perlu. Dulu harus masuk ke dalam system yang formal, sekarang tidak perlu.

Hingga muncul poin ketiga, yaitu crossing atau cara berpikir seperti itu terbukti. Awalnya hanya dari cara berpikir bisnis, sekarang menjadi sebuah kenyataan. Cara berpikir eksponensial melebihi cara berpikir yang incremental.

Saya mengambil contoh di industri pariwisata, Online travel agent (OTA) seperti Traveloka atau Tiket.com telah mendisrupsi agen perjalanan konvensional. Survey yang dilakukan DailySocial id tahun 2018 tentang Airline ticket survey 2018 “Direct Booking vs OTA” menunjukkan: 92% Responden melakukan reservasi secara online, dan 8% tidak melakukan secara online.

Traveloka telah di-download sebanyak 40 juta kali (Juli 2018) dan dikunjungi 15.75 juta visitor (November 2018). Begitu pula Tiket.com dengan 17 juta download dan 9 juta visitor pada periode yang sama.

Sementara pada tahun 2018 Anggota association of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) tidak lagi menjual tiket pesawat. Mereka fokus pada inbound dan domestik travel. Pada Januari 2019, 3% travel agent anggota Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) atau 100 travel agent tutup karena tidak dapat bersaing dengan OTA.

Bagaimana dengan industri lain?

Coba kita lihat di industri pendidikan. Salah satu best practice di industri ini yang kita tahu adalah Universitas Michigan sebagai kampus yang terbaik dan tertua. Kampus ini sudah berdiri sejak tahun 1817 dengan jumlah mahasiswa eksisting 46.000 orang (2018) dan 275 program studi dari sarjana hingga doktoral.

Selama bertahun-tahun, perguruan tinggi diselenggarakan dengan cara konvensional atau business as usual. Namun, pada tahun 2012 berdirilah sebuah “perguruan tinggi” bernama Coursera dengan jumlah “mahasiswa” mencapai 40 juta (pengguna). Dengan jumlah kursus mencapai 3200, kita bisa belajar apapun dari marketing hingga keuangan semuanya tersedia.

Berangkat dari ide awal yang sederhana, Coursera memanfaatkan sebuah komunitas yang selama ini dimubazirkan oleh para rektor sedunia, yaitu catatan kuliah. Catatan kuliah memiliki value yang luar biasa yang bisa dijadikan unique selling proposition bagi perguruan tinggi.

Dengan cerdik Coursera mengumpulkan ribuan catatan tersebut, tidak tanggug-tanggung dari kampus-kampus terbaik seperti Harvard, Michigan hingga Oxford University. Catatan-catatan tersebut didigitalisasi dan ditawarkan secara gratis.

Maka, jadi beralasan ketika kita membandingkan jumlah pengguna atau “mahasiswa” antara Coursera dengan Michigan mencapai ribuan kalinya. Ini menggambarkan strategic digital gap di dunia pendidikan.

Setali tiga uang, di dunia perbankan juga terjadi gap serupa. Menurut data dari Bank Indonesia tentang volume transaksi belanja dan nilai transaksi di Indonesia 5 tahun terakhir, membuktikan hal ini. Uang elektronik yang dibangun dengan cara berpikir eksponensial, tumbuh dengan CAGR 91% dari volume transaksi, dan 113% dari nilai transaksi.

Jika dibandingkan dengan layanan konvensional yang sudah menjadi best practice di industry ini, yang dibangun dengan cara berpikir incremental, CAGR-nya sudah sangat melandai dalam 5 tahun terakhir.

Gambar dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *