Culinary Outlook 2016

Standard

Entah kenapa, belakangan ini waktu terasa berjalan begitu cepat sekali, entah saya yang selo semakin sibuk atau memang kiamat semakin dekat. Tiba-tiba saja 2015 sudah berlalu, sementara belum dikasih beli kalender yang baru.

Seperti halnya orang-orang kekinian, pergantian tahun adalah saatnya melakukan refleksi kaki atau berkontemplasi membuat resolusi, namun saya memilih sok-sok an membuat semacam outlook atau prediksi. 2 tahun belakangan saya membuat “Celebrity & Entertainment Outlook”, namun akhir-akhir ini saya sudah jarang mengikuti perkembangan Aurel dinamika dunia selebritas nasional, jadi saya memutuskan untuk membuat outlook tentang kuliner.

cul22

Kebetulan saya senang makan apalagi ditraktir, tentu yang harus digarisbawahi, saya hanyalah penikmat kuliner amatir, jadi kita bahas hal-hal yang remeh temeh saja, untuk urusan kuliner yang advance biar Tante Farah Quinn saja :p. 

Seiring pertumbuhan #KelasMenengahNgehe, industri kuliner pun kena getahnya. Kini makan tak cukup hanya memuaskan perut, tapi juga untuk eksis! Makan di warteg wasn’t cool anymore, makan lemper ngga sekeren makan sushi padahal ya mirip. Muncul bermacam-macam resto, kafe dan sebagainya dengan menu kekinian menggempur resto/warung jadul dengan menu legendaris.

Dari situ saya coba mengamati tren kuliner yang sedang happening saat ini, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

#1. Instagram Rules!! 

Siapa yang ndak kenal dengan socmed kekinian ini, yang sekarang menjadi barometer kuliner. Sekarang makanan ndak perlu enak-enak banget, yang penting instagramgenic atau pathable. Muncul fotografer-fotografer dadakan yang membuat ritual berdoa sebelum makan sudah tergantikan dengan foto/selfie dulu termasuk saya.

Ini yang harus diperhatikan para pebisnis kuliner, rasa tetap penting, tapi jangan lupakan penampilan. Ambience resto/warung dan tampilan makanan kini menjadi penting, ibaratnya cantik luar dalam.

Roti Instagram

Roti Instagram

#2. Thematic Concept

Semakin kompetitifnya persaingan di industri kuliner, membuat para pebisnis harus memutar otak melakukan diferensiasi untuk membedakan diri dengan pesaing. Konsumen semakin terfragmentasi menjadi ceruk-ceruk kecil (niche).

Maka bermunculanlah resto-resto dengan tema/konsep yang unik dan spesifik yang membidik konsumen niche ini. Sebut saja Hospitalis Restaurant & Bar di bilangan Jakarta Selatan. Sesuai namanya, resto ini mengusung konsep rumah sakit. Interior resto didesain layaknya sebuah rumah sakit lengkap dengan waitress berpakaian suster ngesot. Tak lupa menunya pun disajikan dengan cukup unik, seperti minuman dalam kantong infus atau piring yang menyerupai wadah suntikan.

Ke depan, akan semakin banyak resto yang mengusung konsep unik seperti ini. Context (how to offer) tak kalah penting dengan content (what to offer).

Hospitalis

Hospitalis

#3. Green Tea of Eveything

Setelah era rainbow dan red velvet yang ngetren beberapa tahun silam, setahun belakangan tiba-tiba semua menjadi green tea. Awalnya dari green tea latte yang lebih laris daripada kopi di coffee shop, mendadak semua ikut di-green tea-in. Pokoknya yang di-green tea-in akan happening dan terasa kekinian. Kue Cubit ada embel-embel green tea langsung booming, martabak dikasih topping kitkat green tea langsung dicari-cari, tuh cokelat saja bahkan ada yang rasa green tea :D. Tinggal nunggu soto atau pecel lele rasa green tea :|.  Anyway pada tahu ngga sih kalo green tea sama matcha itu beda?

gt

#4. Martabak Fever

Martabak sudah ada sejak dahulu kala, walaupun dalam benak saya sejak kecil martabak ya yang pake telor (asin), di luar Jatim martabak ya asin dan manis. Setelah munculnya cokelat kekinian bernama Nutella, Ovomaltine, Kitkat Green Tea, dsb. mendadak semua menjadi gila terang bulan martabak manis. Bahkan, anak presiden pun tak ketinggalan invest di bisnis ini dengan mendirikan Markobar 1996 di Solo yang kini berekspansi ke banyak kota. Di 2016 demam kudapan ini sepertinya masih akan terus booming.

Sluuuurp

Sluuuurp

#5. Muda (Kekinian) vs Tua (Kekunoan)

Indonesia sekarang sedang mengalami bonus demografi di mana proporsi usia produktif terutama anak muda sangat dominan. Generasi muda ini semakin konsumtif, namun kabar baiknya juga banyak yang produktif. Banyak dari mereka kini memilih berwirausaha, salah satunya di bidang kuliner.

Misalnya saja fenomena Pasar Santa yang penuh anak muda hipster yang kemudian menjalar di beberapa kawasan lainnya seperti Kelapa Gading atau Tebet. Belum fenomena resto-resto di daerah Senopati, seperti yang pernah dibahas Prof. Rhenald Kasali dalam salah satu tulisannya.

Anak-anak muda ini tentu menawarkan value kekinian baik dari konsep maupun ragam menu yang suka tidak suka akan mengancam kuliner-kuliner kekunoan yang sudah establish *halah*. Jadi para pebisnis kuliner jadul harus #stayrelevant menghadapi tantangan para anak muda ini.

PasarSantaBanner

#6. Sophistication of Traditional Cuisine

Salah satu cara kuliner jadul/kekunoan untuk #stayrelevant adalah bertransformasi menjadi modern namun tetap menjaga otentisitas resep yang telah teruji dari generasi ke generasi. Makanan boleh jadul, tapi tongkrongan tetap cool.

Misalnya kini muncul beberapa restoran padang dengan konsep kekinian ala western, sebut saja contohnya adalah Marco Padang. Resto padang yang hadir di mall kelas atas dengan ambience yang mewah layaknya resto fine dining kelas atas.

Dendeng

Dendeng

Fenomena ini bukan tak mungkin akan diikuti resto-resto lainnya ke depan.

 #7. More for Less

Bicara tentang more for less adalah value yang didapat lebih namun konsumen membayarnya lebih murah. Inovasi model bisnis ini tentu sangat disukai oleh konsumen. Dengan membuat sistem yang efisien dan promosi yang low budget tapi high impact (mengandalkan teknik word of mouth), hal ini sangat memungkinkan terjadi.

D’Cost mungkin salah satu yang memelopori model bisnis seperti ini dengan menawarkan rasa bintang lima dengan harga kaki lima. Seafood yang identik dengan makanan mahal kelas atas dibikin oleh D’Cost menjadi merakyat, democratization of consumption! Mereka juga membuat promo-promo yang unik seperti diskon berdasarkan umur, nikah gratis bayar kalau hamil, dll yang kemudian viral.

#8. Third Wave of Coffee

Seperti manusia, kopi juga berevolusi. Perkembangan dunia kopi yang mengagumkan mengiring kita dari Gelombang Pertama, Kedua hingga ke masa Gelombang Ketiga. Layaknya bir dan wine, kopi juga diproses dan dicintai dengan hormat yang sama oleh mereka yang berkecimpung di dunia kopi.

Pada era First Wave Coffee industri lebih memusatkan kepada inovasi kemasan, kepraktisan penyajian dan pemasaran yang gila-gilaan sehingga mendapatkan kritik pedas karena kualitas rasa yang jauh dari harapan.

Sedangkan di era Second Wave Coffee, konsumen menginginkan kopi yang nikmat serta keinginan mereka untuk mengetahui asal-usul dari kopi yang mereka minum. Mereka ingin mengetahui bagaimana secangkir kopi nikmat bisa sampai pada mereka. Mereka ingin mengetahui proses roasting hingga kenapa ada sebutan untuk “specialty coffee beans”. Di era ini masyarakat ingin menambahkan bahwa kenikmatan kopi lebih dari sekedar rasa, tapi juga pengalaman. Bukan hanya minuman, tetapi sebuah proses.

Ritual minum kopi mendadak tergeser menjadi pengalaman minum kopi yang dikaitkan dengan kehidupan sosial. Kedai kopi dan café merebak menjadi bisnis yang besar-besaran. Coffee shop menjamuri kota-kota besar. Minum kopi menjelma gaya hidup yang sangat penting di kehidupan bermasyarakat pada masa itu. Kopi Gelombang Kedua ini juga tumbuh seiring lahirnya sebuah brand besar yang menjalari seluruh dunia: Starbucks.

Third Wave Coffee adalah masa ketika orang-orang tak lagi hanya menikmati kopi untuk pelepas dahaga atau pemompa semangat di saat kafein mendadak menjadi kebutuhan. “Gelombang Ketiga” pada dunia kopi menyadarkan kita bahwa kopi adalah sesuatu yang sahih, kompleks, dicintai, dielu-elukan dan merasuk menjadi sebuah ritual yang tak sembarangan.

Fenomena ini juga terjadi di sini. Mulai muncul gerai-gerai kopi berbasis “movement” yang lebih menghargai kopi terutama para petaninya. Seperti yang dilakukan oleh Filosofi Kopi, sebuah movement yang multicontent, dari buku, film, dokumenter hingga dibikin kedainya.

tanamera-coffee-roastery

 

###

Demikian hasil pengamatan dan penerawangan amatiran saya tentang industri kuliner nusantara yang mungkin bisa menjadi panduan bagi pebisnis kuliner *halah*. Mungkin teman-teman ada yang menambahkan?

Selamat tahun baru dan sampai jumpa di outlook-outlook ga penting selanjutnya.

Feel free to shareShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrTweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+

7 thoughts on “Culinary Outlook 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *