Siti, Surat dari Praha dan Lovely Man

Standard

Tiga hari terakhir ini, berturut-turut saya berkesempatan menonton film Siti, Surat dari Praha dan Lovely Man. Secara kebetulan tiga film ini ternyata punya satu benang merah yang sama, yaitu relasi orang tua dan anak. Relasi yang menurut saya kok lebih menarik dan sentimentil daripada kisah percintaan menye-menye dua muda-mudi.

Film pertama, Siti, sebenarnya tak spesifik berkisah tentang relasi ini. Namun, hubungannya dengan Bagas, anaknya maupun dg ibu mertuanya cukup menarik perhatian (setidaknya bagi saya). Siti yg beban hidupnya sudah terlampau berat menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya lumpuh dan tak mau bicara dengannya, menghadapi anaknya, Bagas yang bandel namun cerdas dan lucu.

Gambar dari sini
Continue reading

Didi Kempot, City Branding dan Broken Heart

Standard

#31HariMenulis Hari ke-5

Ada yang berbeda dari notifikasi grup WA pagi ini. Seorang kawan ASN yang cukup tenar di jagad maya mengabarkan sebuah berita lelayu yang cukup mengejutkan. The Godfather of Broken Heart, H.E Didi Kempot berpulang ke haribaan Ilahi.

Sontak saya tercengang seakan tak percaya. Segera saya cek di linimasa Twitter yang biasanya paling update dengan kabar terkini. Dan ternyata benar, berita itu nyata. Sang maestro benar-benar pergi. Bak disambar petirnya Thor di siang bolong – tapi masih pagi sih – saya langsung membatalkan puasa mencuit belasungkawa untuk beliau. #RIP

Continue reading

PELAJARAN MARKETING DARI BOHEMIAN RHAPSODY.

Standard

#31HariMenulis Day-2


Semalam, ketiga kalinya saya menonton film yg berkisah tentang perjalanan band legendaris Queen (atau lebih tepatnya Freddie Mercury).

Terlepas bumbu-bumbu fiksinya, sebagai praktisi marketing saya tertarik dg beberapa adegan yg memberikan inspirasi tentang Queen as a brand.

###
1. Brand Positioning (DNA)

Saat berdebat dg produser EMI tentang album Night at the Opera, Queen menolak menggunakan formula yg sama dg album pertama, karena mereka adalah Queen – 4 orang aneh yg tidak cocok bermain utk orang aneh lain, orang2 yg dikucilkan yg juga merasa tidak cocok dg lingkungannya.

Queen tidak mau terjebak pada formula industri musik yg mainstream. Mereka ingin men-drive market dg racikan mereka sendiri, rock n roll yg beradu dg nada2 tinggi ala opera dan lirik yg penuh metafora dan misteri, Bohemian Rhapsody!

Ya, marketing adalah tentang authenticity! Dengan positioning yg clear dan diferensiasi yg unik, brand anda akan outstanding di pasar.

###
2. Part of the Show

Saat suntuk menunggu Freddie yg tak kunjung tiba untuk latihan, Brian May tiba-tiba kepikiran membuat lagu yg melibatkan penonton sbg bagian dari pertunjukan. Maka, terciptalah lagu “We Will Rock You” dg intro lagu yg mengajak penonton bertepuk tangan beriringan dg ketukan drum.

Ide ini sungguh jenius, karena sejatinya marketing yg paripurna adalah tentang co-creation antara brand dg customer. Dengan melibatkan penonton sbg bagian dari pertunjukan, terjadi horisontalisasi dimana brand adalah fasilitator yg menjadi enabler dlm memberdayakan customer.

Be an authentic brand, and get connected with your customer!!

MILENIAL MUSLIM, HIJAB HALAL DAN RALINE SHAH

Standard

Hingar bingar perihal hijab halal yang didengungkan Zoya beberapa waktu lalu menuai bermacam respon dari netizen, banyak yg mencibir, namun tak sedikit yg mendukung. Ada yg menuduh hanya akal-akalan marketing belaka, ada lagi yg menyatakan sudah keblinger label. Salahkah campaign yg dilakukan Zoya? In My Ganteng Opinion, sah-sah saja, karena memang ada marketnya. Lha wong jualan cat tembok aja sekarang ada yg berlabel halal kok.

Dalam riset yg kami lakukan 5 tahun terakhir tentang milenial muslim, mulai ada kecenderungan bahwa konsumsi adalah sebagai bagian dari ibadah, yg karenanya halal menjadi tuntutan. Kami menemukan ada 4 sosok kelas menengah muslim antara lain Apatist, Rationalist, Conformist dan Universalist. Segmen Conformist inilah yg paling menekankan bahwa produk yg mereka konsumsi harus comply to islamic values. Walaupun secara jumlah paling minoritas namun tak bisa dipandang sebelah mata. (ebooknya bisa didonlot di sini >> http://bit.ly/1oeiWM2)

Saya tak ingin membahas apakah perlu dan pentingkah jilbab harus dilabeli halal, apa yg dilakukan Zoya menurut saya cukup cerdik memanfaatkan fenomena ini. Mereka menjadi viral di social media, awareness meningkat drastis, sentimen? mungkin fifty-fifty lah antara yg mendukung dan mencibir. Kunci penting dalam marketing adalah membuat brand story dan dibicarakan.

Lalu apa hubungannya dg Raline Shah? ya, siapa yg tak ingin menghalalkannya..

 

 

Celebrity and Entertainment Outlook 2015: Sebuah Perenungan

Standard

“Waktu terus berlalu…seiring langkahku…yang coba tuk lewati hari demi hari” – Funky Kopral

Tak sengaja lagu ini terdengar lagi. Sebuah nomor ciamik dari band fenomenal di akhir 90-an, yang konon model video klip lagu ini menjadi bintang bokep di Bandung. Oke, too much information.

Ya, waktu berlalu begitu kencang walau tak sekencang dekapan mantan pas motoran di kala hujan, tak terasa tahun berganti tahun. Rasanya baru kemarin menulis postingan selo yang sama di malam tahun baru, kini sudah hampir tahun baru lagi.

Karena membuat resolusi di tahun baru sudah terlalu mainstream…

Seperti tahun-tahun sebelumnya sayangnya postingan ilang, kalau bos saya bikin Marketing Outlook 2015, maka sebagai peneliti Pusat Kajian Selebritis Madani Sejahtera (Puskesmas) saya tergerak untuk membuat semacam catatan dan outlook  tentang industri entertainment tanah air *halahpret*.

Dunia selebritis dan hiburan di negeri ini semakin berkembang nan gemerlap serta penuh dinamika. Seperti hukum rimba, siapa yang “kuat” dia yang akan bertahan. Semakin banyak seleb-seleb muka baru, pun seleb lama muncul dengan branding baru. Di 2014, Saya menangkap beberapa fenomena yang saya yakin akan menjadi tren ke depan (setidaknya di 2015). Continue reading